
Banyak pasangan suami istri yang menyenangkan dan penuh perhatian kepada rekan kerja, sekretaris, dan bahkan orang asing, tapi sering ketus dan judes antara satu dengan yang lainnya, menganggap pasangannya sudah semestinya mereka miliki. Sulit sekali untuk mempercayai bahwa orang yang sudah menikah dan bertanggung jawab bisa efektif atau bahagia sepenuhnya tanpa hubungan yang serasi dengan teman hidupnya.
Keluarga merupakan landasan negara. Bisa ditunjukan dari sejarah bahwa tidak ada masyarakat yang pernah lestari setelah kehidupan keluarganya merosot. Cara kita melihat pasangan hidup kita, memperlakukan pasangan hidup kita dan rukun dengan teman hidup kita sangatlah penting. Hubungan ini lebih berkaitan dengan kebahagiaan dibandingkan dengan hubungan kita dengan orang lain.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, ada tiga kemungkinan alasan bagi kebanyakan kesulitan perkawinan untuk hidup langgeng atau dipertahankan.
1. Kebanyakan pasangan suami istri, setelah suatu jangka waktu tertentu menjadi terbiasa punya teman hidup di dekatnya. mereka mengandaikan segala-galanya beres dan bahwa teman hidupnya akan selalu bersama mereka. Jelas sekali mereka mengandaikan terlalu banyak, sebab empat di antara sepuluh perkawinan berakhir lainnya tanpa ada dalam nama saja.
2. Lingkungan tempat kita hidup mengumpani masalah. Banyak orang sesama kita yang menganggap sebagai hal yang berlebihan memperlihatkan cinta dan kasih sayang kepada teman hidupnya.
3. Moralitas yang berubah, yang mengakui cinta bebas, perkawinan percobaan, kawin kontrak, hubungan di luar pernikahan, pertukaran istri dan melepas teman hidup tanpa alasan selain kebosanan, menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpastian.
Karena cinta merupakan landasan kuat tempat perkawinan maupun yang baik dibangun. Setiap orang mempunyai gagasan tersendiri tentang apa sebenarnya cinta itu. Agama mengajarkan kita, "Cintailah Tuhanmu, dan cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri karena Tuhanmu."
Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh seorang ayah untuk anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka dan hal terpenting yang bisa dilakukan oleh seorang ibu untuk anak-anaknya adalah mencintai seorang ayah mereka. Dengan cara ini anak merasa ibu dan ayah akan bersama-sama memberikan rasa aman dan dia tidak akan menghadapi trauma harus memilih antara ibu atau ayah.
Ketika melihat cinta dan seks kerap kali disebut-sebut sekaligus, sehingga banyak orang yang berpikir bahwa keduanya bersinonim. Ini tidak benar. Cinta merupakan perasaan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri yang kita miliki untuk orang lain. Nafsu sepenuhnya mementingkan diri sendiri. Manusia modern sekarang ini karena alasan komersial dan mementingkan diri sendiri, terus-menerus mengasosiasikan keduanya.
Walaupun ada pengakuan yang universal tentang pentingnya cinta, hanya sedikit sekali informasi mengenai persoalan bagaimana cara meningkatkan perkawinan sebagai hubungan pria dan wanita yang paling ideal. Cinta akan mati karena diabaikan, sama seperi bunga, pohon atau semak. Dan cinta disebutkan oleh tindakan dan pernyataan cinta. Cinta akan pudar atau hampa, kecuali bila setiap hari diberikan dengan penerapan perhatian, keterlibatan dan pernyataan cinta. Banyak pasangan menganggap bahwa mereka masing-masing merupakan perkawinan yang paling kejam.
Pasangan suami dan istri dalam suatu perkawinan, setelah mereka mencapai kebutuhan, mereka merasakan jatuh cinta lagi. Bila mereka secara moral orang yang bertanggung jawab dan ingin menyelamatkan perkawinannya, mereka mengalami proses berpacaran sebagai rasa tanggung jawab. Mereka menunjukan bahwa tanggung jawab menyatakan dan memperlihatkan cinta secara fisik secara harfiah akan membawa atau mengembalikan cinta ke dalam kehidupan mereka. Bila kita cukup sering memberi pupuk cinta kita, secara cukup kuat, dan cukup lama, aspek-aspek positif perkawinan kita akan tumbuh makin kuat, sementara aspek-aspek negatif semakin lemah. Cinta sejati merupakan proses pertumbuhan dan pengembangan yang melibatkan setiap emosi, masalah, suka cita dan kemenangan yang diketahui oleh manusia. Ini kerap kali lebih sulit daripada mudah, lebih menuntut daripada memberikan imbalan, lebih mengukung daripada membebaskan dan kerap kali melibatkan lebih banyak masalah dibandingkan dengan kesenangan.
Esensi dari kehidupan sebenarnya menuju pada pemenuhan cinta yang tulus yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Terbingkai dalam niat dan tujuan hidup. Kehendak selalu menjadi bukti dari keistiqomahan manusia dalam memegang niat dan tujuannya. Niat sekaligus tujuan merupakan dan rupa yang menyatu dalam kehendak manusia. Karena sejatinya kehendak merupakan ruang lingkup yang mencakup segala yang terang dalam niat dan tujuan hidup manusia.
Coppyright Eyangresi313 @2010
