Memberikan arahan kepada Anda yang mengarah kepada tingkatan dan keadaan kehidupan yang berimbang pada peningkatan kehidupan lahiriah & batiniah.




Tampilkan postingan dengan label Hakikat Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2010

KEKUATAN CINTA


Banyak pasangan suami istri yang menyenangkan dan penuh perhatian kepada rekan kerja, sekretaris, dan bahkan orang asing, tapi sering ketus dan judes antara satu dengan yang lainnya, menganggap pasangannya sudah semestinya mereka miliki. Sulit sekali untuk mempercayai bahwa orang yang sudah menikah dan bertanggung jawab bisa efektif atau bahagia sepenuhnya tanpa hubungan yang serasi dengan teman hidupnya.

Keluarga merupakan landasan negara. Bisa ditunjukan dari sejarah bahwa tidak ada masyarakat yang pernah lestari setelah kehidupan keluarganya merosot. Cara kita melihat pasangan hidup kita, memperlakukan pasangan hidup kita dan rukun dengan teman hidup kita sangatlah penting. Hubungan ini lebih berkaitan dengan kebahagiaan dibandingkan dengan hubungan kita dengan orang lain.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, ada tiga kemungkinan alasan bagi kebanyakan kesulitan perkawinan untuk hidup langgeng atau dipertahankan.
1. Kebanyakan pasangan suami istri, setelah suatu jangka waktu tertentu menjadi terbiasa punya teman hidup di dekatnya. mereka mengandaikan segala-galanya beres dan bahwa teman hidupnya akan selalu bersama mereka. Jelas sekali mereka mengandaikan terlalu banyak, sebab empat di antara sepuluh perkawinan berakhir lainnya tanpa ada dalam nama saja.
2. Lingkungan tempat kita hidup mengumpani masalah. Banyak orang sesama kita yang menganggap sebagai hal yang berlebihan memperlihatkan cinta dan kasih sayang kepada teman hidupnya.
3. Moralitas yang berubah, yang mengakui cinta bebas, perkawinan percobaan, kawin kontrak, hubungan di luar pernikahan, pertukaran istri dan melepas teman hidup tanpa alasan selain kebosanan, menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpastian.

Karena cinta merupakan landasan kuat tempat perkawinan maupun yang baik dibangun. Setiap orang mempunyai gagasan tersendiri tentang apa sebenarnya cinta itu. Agama mengajarkan kita, "Cintailah Tuhanmu, dan cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri karena Tuhanmu."

Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh seorang ayah untuk anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka dan hal terpenting yang bisa dilakukan oleh seorang ibu untuk anak-anaknya adalah mencintai seorang ayah mereka. Dengan cara ini anak merasa ibu dan ayah akan bersama-sama memberikan rasa aman dan dia tidak akan menghadapi trauma harus memilih antara ibu atau ayah.

Ketika melihat cinta dan seks kerap kali disebut-sebut sekaligus, sehingga banyak orang yang berpikir bahwa keduanya bersinonim. Ini tidak benar. Cinta merupakan perasaan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri yang kita miliki untuk orang lain. Nafsu sepenuhnya mementingkan diri sendiri. Manusia modern sekarang ini karena alasan komersial dan mementingkan diri sendiri, terus-menerus mengasosiasikan keduanya.

Walaupun ada pengakuan yang universal tentang pentingnya cinta, hanya sedikit sekali informasi mengenai persoalan bagaimana cara meningkatkan perkawinan sebagai hubungan pria dan wanita yang paling ideal. Cinta akan mati karena diabaikan, sama seperi bunga, pohon atau semak. Dan cinta disebutkan oleh tindakan dan pernyataan cinta. Cinta akan pudar atau hampa, kecuali bila setiap hari diberikan dengan penerapan perhatian, keterlibatan dan pernyataan cinta. Banyak pasangan menganggap bahwa mereka masing-masing merupakan perkawinan yang paling kejam.

Pasangan suami dan istri dalam suatu perkawinan, setelah mereka mencapai kebutuhan, mereka merasakan jatuh cinta lagi. Bila mereka secara moral orang yang bertanggung jawab dan ingin menyelamatkan perkawinannya, mereka mengalami proses berpacaran sebagai rasa tanggung jawab. Mereka menunjukan bahwa tanggung jawab menyatakan dan memperlihatkan cinta secara fisik secara harfiah akan membawa atau mengembalikan cinta ke dalam kehidupan mereka. Bila kita cukup sering memberi pupuk cinta kita, secara cukup kuat, dan cukup lama, aspek-aspek positif perkawinan kita akan tumbuh makin kuat, sementara aspek-aspek negatif semakin lemah. Cinta sejati merupakan proses pertumbuhan dan pengembangan yang melibatkan setiap emosi, masalah, suka cita dan kemenangan yang diketahui oleh manusia. Ini kerap kali lebih sulit daripada mudah, lebih menuntut daripada memberikan imbalan, lebih mengukung daripada membebaskan dan kerap kali melibatkan lebih banyak masalah dibandingkan dengan kesenangan.

Esensi dari kehidupan sebenarnya menuju pada pemenuhan cinta yang tulus yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Terbingkai dalam niat dan tujuan hidup. Kehendak selalu menjadi bukti dari keistiqomahan manusia dalam memegang niat dan tujuannya. Niat sekaligus tujuan merupakan dan rupa yang menyatu dalam kehendak manusia. Karena sejatinya kehendak merupakan ruang lingkup yang mencakup segala yang terang dalam niat dan tujuan hidup manusia.




Coppyright Eyangresi313 @2010

Jumat, 18 Juni 2010

HAKIKAT CINTA SEJATI


"Cinta itu buta"' demikian yang sering kita dengar dari celotehan kawula muda yang sedang mengalami jatuh cinta. Benarkah demikian ? Karena cinta lalu menjadi cinta. Cinta menjadi suatu hal; yang dicari.

Ada misteri apakah di dalam cinta sehingga orang gandrung untuk menemukannya. Apakah karena harga cinta lebih mahal dari mutiara, sehingga banyak orang berkorban untuk mencarinya. Apakah itu memakanan yang tidak mengenyangkan yang pesona cita rasanya membuat kita ketagihan.

Mungkinkah sederetan pertanyaan yang tidak pernah ditemukan jawabannya itu dikatakan "buta", atau cinta buta itu seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi'i dalam buku Diwanu Asy-Syafi'i, "Mata bila sudah berbalut cinta, kejelekan pun menjadi sirna," dan "mata bila telah berselimut benci, kejelekan akan tampak di semua sisi."

Inikah cinta ? Yang tidak memandang jelek dan buruk, kaya dan miskin. Rasanya bukan ini yang diasumsikan oleh kawula muda, sebab mereka juga bilang, "cinta itu indah". Jalan buntu lagi yang kita temui.

Apanya yang buta dalam kalimat, "Cinta itu buta" ? Apakah matanya atau cintanya, atau mungkin kedua-duanya ? Bila benar kedua-duanya, maka tidak heran bila kemudian mengemukaan istilah "cinta buta". Sebagai akibat dari pelegalitasan kawula muda untuk berbuat "ini" dan "itu. Cinta buta, bagaikan sebuah harus yang berlabel halal.

Jika demikian kenyataan dan kejadiannya, bukankah faktanya menjadi terbalik, sesuatu yang haram menjadi halal (boleh), pembolehan yang dibuat sendiri. Sedangkan hal yang baru akan benar-benar dibolehkan adalah, "Idza ma dalla daliluhu" bila telah ada dalil atau yang menyatakannya, yaitu suimber hukum, baik yang merupakan ketentuan Allah SWT atau yang disepakati bersama sebagai hukum pembolehan (legalitas).

Berkaitan dengan kata halal (legalitas) untuk berbuat ini dan itu yang dipahami dari salah pengertian atau justifikasi "cinta buta", baru benar halal oleh pandangan siapapun bila kawula muda telah dapat meramu hakikat dan syari'ah bukan sekedar cinta semata lalu menjadi halal.

Hakikat dalam hal ini adalah kenyataan cinta antara dua orang lelaki dan perempuan yang akan dibahas artinya lebih lanjut kemudian. Syari'at adalah akreditasi agama Islam tentang jalinan cinta yang disahkan dalam pernikahan di hadapan penghulu dan keluarga.

Dengan demikian, istilah "cinta buta" bukanlah seperti yang selama ini dipraktikkan remaja-remaja saat ini. Istilah cinta buta itu timbul sebenarnya karena "cinta" pada hakikatnya adalah "sesuatu yang suci dan abadi". Karena ketinggian nilai kesucian dan keabadiannya sering kali orang tidak dapat meraihnya, sekalipun dicari oleh dua insan yang berbeda. Hal tersebut memang mustahil, sebab kesucian yang tinggi hanyalah milik Allah. Begitu pula dengan keabadian, hanyalah Dialah Allah yang kekal selamanya.

Jika saja hakikat cinta itu telah benar-benar di dapat oleh manusia, dengan sendirinya ia tidak lagi butuh bercinta. Cinta abadi hanyalah Khazanah Allah yang tak pernah putus dan sirna. apa lagi hilang. Jika sekali waktu kita rasakan keberadaannya dan kita artikan cinta, itu adalah bagian dari percikan cahaya-Nya. Sebenarnya karena kebutaan kita untuk mengetahui cinta dan juga karena keagungan dan kesucian cinta yang teramat tinggi sehingga manusia tidak mampu menggapainya.










Copyright Eyangresi313 @2010